43
Mengatasi Klitih DI Yogyakarta, Begini Solusinya

Mengatasi Klitih DI Yogyakarta, Begini Solusinya

Insiden klitih di Yogyakarta yang dilakukan oleh seorang pelajar remaja kembali memakan korban jiwa. Korban meninggal pada 3 April 2022, setelah ditusuk dengan tali persneling saat sedang mencari makan untuk sahur. Menurut para pelaku, mereka terlibat perseteruan antar kelompok (geng), sehingga sebagai peluang, para pelaku menggelar aksi klitih.

Faktanya, fenomena Kurichi selalu terjadi di daerah ini, dan menurut beberapa aktor, motif Kurichi jauh dari mengekspresikan emosi, balas dendam, mencari ketenaran, dan membuktikan diri. tidak ada. Berbeda dengan perampok yang melakukan kejahatan dengan motif merampok barang berharga dan membunuhnya, klitih tidak mengincar barang berharga dan tetap bisa membunuhnya.

Menurut mantan pelaku di tahun 2017, aksi klitih susah hilang dan sukar diatasi karena kebanyakan pelakunya adalah pelajar. Kalau pun dipenjara, paling hanya 5-10 tahun dan mereka sudah beregenerasi setiap tahunnya, bila diberi hukuman kekerasan agar jera pasti akan terhalang oleh HAM.

Sementara itu, Pemda DIY sudah mengeluarkan peraturan gubernur DIY Nomor 28 Tahun 2021, di mana sekelompok penjaga warga memiliki tugas membantu menyelesaikan konflik sosial di lingkungan masyarakat dengan cara menjaga daerah-daerah yang biasa terjadi klitih, kemudian mengawasi kegiatan anak-anak tersebut seusai sekolah. Polisi juga rutin mengadakan razia bawaan anak-anak remaja untuk mengetahui apakah membawa senjata tajam untuk nglitih serta memberikan pembinaan di jalanan mengenai klitih. Namun wacana hanyalah wacana, klitih masih terjadi di tahun 2022.

Solusi Memberantas Klitih

Sebenarnya aksi klitih bisa dihentikan dengan serius bila mengenali karakteristik suatu geng atau kelompok yang melakukan kejahatan. Menurut kriminolog Walter B. Miller, enam karakteristik tersebut adalah terorganisir, adanya ketua atau pimpinan, adanya wilayah kekuasaan, adanya hubungan yang intens antara anggota, memiliki aktifitas illegal, dan memiliki tujuan. Terorganisir karena untuk melakukan aksi klitih pasti direncanakan, kemudian ketua dan pimpinan pasti dipilih untuk memimpin aksi, wilayah kekuasaan adalah tempat untuk melancarkan aksi, hubungan antar anggota adalah motif kuat untuk melakukan aksi, kemudian aksi klitih dengan membancok, memukul, dan sejenisnya adalah aktifitas illegal yang merupakan tujuan dari geng tersebut.

SEE ALSO  Sri SUltan Tegaskan Hukuman Bagi Pelaku Klitih

Untuk menghentikan klitih, pihak berwajib bisa menindak satu-persatu karakteristik geng tersebut. Dimulai dari mengangkap pimpinan dan anggota geng. Telusuri siapa saja pemimpin yang merencanakan misi klitih dari pelaku yang sudah ditangkap dan jangan lepasbebaskan anggota yang tertangkap sampai dapat nama-nama anggota lain terutama ketuanya. Kemudian perketat penjagaan oleh pihak berwajib di wilayah kekuasaan anggota geng yang memang biasa dilakukan klitih. Polisi mengatakan sudah sering menangkap pelaku yang merupakan pelajar, hal itu bisa di telusuri dimana pelaku bersekolah dan mangkal.

Selanjutnya untuk memberantas karakteristik hubungan antar anggota yang terus-terusan beregenarisi, bisa ditanyakan oleh pelaku yang tertangkap seperti apa proses untuk menjadi anggota, apakah ada pencarian khusus untuk regenerasi, ataukah ada sinyal-sinyal khusus untuk mengajak pelajar bergabung dan meng-klitih. Terakhir, pihak berwenang bisa memberikan sanksi yang lebih tegas bila sudah menangkap pelaku, selain dengan hukuman pidana, bisa dengan hukuman cancel culture seperti memviralkan pelaku ke media sosial agar masyarakat mengucilkannya dan mempersulit masa depannya dengan catatan kriminal.

Leave a Reply

Your email address will not be published.