35
GoTo IPO Investor Dilema Pilihan Saham

GoTo IPO Investor Dilema Pilihan Saham

Hari ini, Senin , PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) resmi tercatat di bursa dengan harga IPO Rp338 per saham. Dengan demikian, angka ini mencerminkan kapitalisasi pasar yang diperkirakan mencapai Rp400,3 triliun.

Melalui perayaan ini, GOTO berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp15,8 triliun. Yakni Rp 13,7 triliun karena penawaran umum saham melalui IPO dan Rp 2,1 triliun karena penjualan treasury stock dalam rangka opsi green shoe. Pembiayaan mencerminkan kapitalisasi pasar sebesar Rp400,3 triliun.

Kehadiran GOTO di bursa justru menjadi dilematis bagi kalangan manajer investasi (MI). Maklum, dengan kapitalisasi sebesar tersebut, GOTO punya pengaruh signifikan terhadap pergerakan IHSG. Alhasil, para MI yang mau mengekor kinerja indeks, harus mempertimbangkan untuk mengoleksi saham GOTO dalam portofolionya.

Tapi di satu sisi, banyak kalangan yang meragukan fundamental GOTO karena valuasi yang terlalu mahal maupun catatan kinerja GOTO yang masih merugi sejauh ini.

Salah satu MI, Panin Asset Management tak menampik bahwa valuasi GOTO sejatinya mahal. Direktur Panin AM Rudiyanto mengatakan bahwa valuasi GOTO relatif mahal jika dibandingkan dengan perusahaan sejenis di luar negeri. Kendati begitu, dia menyebut pihaknya tetap berpartisipasi dan mengoleksi saham GOTO di beberapa portofolio reksadana milik Panin AM.

Menurut Rudiyanto, perusahaan yang masih merugi atau punya valuasi super premium seperti saham teknologi, dalam kasus ini, GOTO, memang sebenarnya sulit untuk memenuhi kriteria sebagai pilihan portofolio investasi di reksadana.

Hanya saja, untuk GOTO, Panin AM masih memilih untuk mengoleksi lebih karena bobotnya yang besar. Dia menyebut, bobot GOTO sama dengan saham BBCA dan BBRI di IHSG, yaitu 9%. Terlebih lagi, GOTO juga merupakan market leader untuk sektornya.

SEE ALSO  GoTo Mengurangi Saham Untuk Publik, Begini Penjelasannya

“Hal ini membuat saham GOTO sebagai saham index mover, sehingga sedikit banyak tetap perlu dimiliki agar kinerja reksadana tetap sejalan dengan market,” kata Rudiyanto kepada Kontan.co.id, Senin (11/4).

Walau begitu, Rudiyanto menyebut bahwa bobot saham GOTO di portofolio reksadana Panin AM tidak sebesar bobotnya di IHSG. Selain itu, dia juga bilang, Panin AM memiliki dua waktu untuk pembelian sahamnya, yakni dibagi menjadi ketika IPO, serta di secondary market sembari melihat perkembangan harga sahamnya.

Ke depannya, dia menyebut Panin AM akan cenderung lebih fleksibel dalam memegang kepemilikan saham GOTO. Jika ternyata ada kenaikan harga yang signifikan, dimungkinkan untuk melakukan profit taking.

“Sementara kalau untuk menahan saham GOTO secara jangka panjang atau tidak, kami melihat perkembangan dari waktu ke waktu,” imbuh Rudiyanto.

Lain halnya dengan Henan Putihrai Asset Management, MI yang satu ini lebih memilih untuk tidak mengoleksi saham GOTO. Head of Business Development Division HPAM Reza Fahmi berujar keputusan tersebut didasari oleh valuasi saham GOTO yang terlampau mahal. Dia menilai, perbandingan valuasi dengan harga IPO GOTO berbeda jauh.

“Valuasi GOTO kami rasa terlalu mahal dan tidak masuk universe investasi kami. Oleh karena itu, HPAM memilih untuk tidak ambil bagian dulu dalam pembelian GOTO kali ini,” ungkap Reza.

Walaupun dari sisi fundamental GOTO masih merugi, Reza bilang hal tersebut bukan berarti membuat MI tidak boleh membeli sahamnya. Pasalnya, secara peraturan, tidak ada aturan yang melarang MI untuk membeli sebuah saham yang rugi maupun perusahaan yang tengah merugi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Head of Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana. Dia bilang tidak ada larangan bagi para MI untuk membeli saham atau emiten dengan fundamental yang buruk. Menurut dia, pertimbangan utama MI dalam memilih saham adalah fundamental dan likuiditas.

SEE ALSO  Sang Anak Dianiaya Di Tol, Pelaku Pemukulan Ditangkap

Dalam kasus GOTO, dia meyakini GOTO tidak memiliki masalah likuiditas karena sahamnya yang likuid. Namun, dari sisi fundamental, GOTO punya risiko karena kinerjanya yang sejauh ini masih merugi. Selain itu, kenaikan saham GOTO juga tidak ada jaminan akan terus berlangsung.

Apalagi jika berkaca dari saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) sebelumnya, yang sempat menguat hingga auto rejection atas (ARA), namun pada akhirnya terkoreksi dan kembali sesuai dengan fundamentalnya.

“Saham GOTO mungkin lebih menarik untuk produk reksadana yang dari segi dana kelolaan relatif masih kecil, manuver untuk transaksi keluar-masuknya lebih mudah. Jika dana kelolaannya besar, justru lebih sulit untuk melakukan manuver trading jual-beli karena artinya porsinya juga akan lebih besar,” tutup Wawan.