54
Menempatkan Perempuan Di Pusat Pemulihan Ekonomi Global: Misi Indonesia Di KTT G20

Menempatkan Perempuan Di Pusat Pemulihan Ekonomi Global: Misi Indonesia Di KTT G20

Studi menunjukkan bahwa menjembatani kesenjangan gender memiliki dampak positif pada kesejahteraan sosial. Sebuah studi Bank Dunia tahun 2021 untuk perempuan menunjukkan bagaimana kesejahteraan ekonomi tidak hanya bergantung pada pendapatan dan infrastruktur, tetapi juga pada kesetaraan gender.

Namun, G20, sekelompok negara yang membentuk 85% ekonomi dunia, belum berfokus pada penyelesaian hambatan perempuan dalam partisipasi ekonomi dan manfaat dari ekonomi.

Sebagai contoh, dari sekian banyak konferensi G20, hanya satu yang diadakan di Brisbane, Australia pada tahun 2014 telah membawa upaya nyata untuk meningkatkan status ekonomi perempuan. Namun, hingga saat ini, komitmen Brisbane tersebut belum ditindaklanjuti dengan strategi dan mekanisme implementasi yang jelas.

Indonesia akan menjadi tuan rumah KTT G20 tahun ini.

Mengingat perannya, Indonesia dapat mengarahkan respon negara-negara G20 terhadap COVID-19 dan mempromosikan isu-isu perempuan dalam agenda kebijakan global. Indonesia telah menunjukkan niatnya untuk mengadvokasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dengan memprioritaskan peran perempuan, bersama dengan pemuda dan UKM.

solusi indonesia
Mengutamakan peran perempuan adalah keputusan yang tepat.

UN Women menunjukkan bahwa perempuan paling terpengaruh oleh COVID-19 dan karena sifat pekerjaan mereka, termasuk perawatan informal, berketerampilan rendah, dan tidak dibayar, dibutuhkan waktu agar pendapatan mereka pulih dalam jangka panjang. .. Menurunnya kesetaraan gender pada tahun 2021 mengindikasikan bahwa prediksi tersebut mungkin saja menjadi kenyataan. Di masa pandemi, kesenjangan partisipasi ekonomi antara laki-laki dan perempuan semakin melebar.

Sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa COVID-19 mengubah kehidupan perempuan mengharuskan para pemimpin global untuk mengambil prioritas untuk respon cepat perempuan dan upaya pemulihan jangka panjang.

Dari semua prioritas, tiga kelompok perempuan harus menjadi tujuan prioritas tertinggi.

Kelompok pertama adalah perempuan dari usaha mikro.

SEE ALSO  Timnas Indonesia Akui Keunggulan Pemain Aljazair

Tujuh dari sepuluh pekerja di dunia adalah bagian dari usaha mikro. Menurut data dari 99 negara, usaha mikro merupakan 70% dari semua pekerjaan.

Menurut data Bank Dunia, perempuan memiliki 23% UKM, jumlah yang meningkat setiap tahun.

Namun, wanita berpenghasilan lebih rendah daripada pria dalam jenis pekerjaan yang sama. Usaha mikro yang dipimpin perempuan 27% lebih mungkin untuk tidak selamat dari pandemi yang dapat disebabkan oleh berbagai tanggung jawab perawatan yang tidak dibayar, menurut sebuah studi oleh International Trade Center tentang dampak COVID-19 pada perusahaan di 136 negara.

Kelompok kedua adalah perempuan di sektor informal.

Lebih dari 62% pekerjaan di 99 negara didasarkan pada sektor informal. Proporsi perempuan di sektor ini juga sangat penting. Sebagai contoh, lebih dari 80% perempuan yang bekerja di luar sektor pertanian di Asia Selatan mencari nafkah sebagai pekerja tidak tetap. Situasi serupa terjadi di Afrika sub-Sahara (74%) dan Amerika Latin dan Karibia (54%).

Meskipun kontribusi keuangan mereka sangat besar, perempuan sering tidak dapat diberikan hak pekerja yang sesuai seperti liburan, asuransi kesehatan dan asuransi keselamatan kerja. Jaring pengaman ini sering mengandalkan partisipasi formal dalam angkatan kerja.

Wanita yang tinggal di pedesaan adalah kelompok ketiga.

Lebih dari tiga perempat orang yang sangat miskin di dunia tinggal di daerah pedesaan.

Data menunjukkan bahwa anak perempuan dan perempuan lebih cenderung tinggal di keluarga miskin di daerah pedesaan daripada anak laki-laki dan laki-laki. Infrastruktur pedesaan yang buruk, seperti akses ke layanan keuangan, mempersulit perempuan untuk berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari ekonomi.

Menempatkan perempuan sebagai penerima manfaat dari pemulihan ekonomi global
Seiring masyarakat global terus bergerak maju untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif, sudah saatnya kebijakan global fokus pada memposisikan perempuan sebagai penerima manfaat, terutama terkait kebijakan pemulihan COVID-19.

SEE ALSO  Carlos Fortes Dan Marukawa Cadangan Di Laga Uji Coba PSIS Semarang Vs PSM Makassar

Sebagai negara tuan rumah G20, Indonesia berada dalam posisi untuk mendorong para pemimpin dunia mencapai pemulihan ekonomi yang komprehensif. Indonesia dapat mencapai hal ini, misalnya, dengan merinci komitmen Brisbane dalam perencanaan dan tindakan terperinci pada dua jalur kebijakan utama G20, Jalur Perbendaharaan dan Jalur Sherpa. Ini akan menjadi langkah nyata menuju pemulihan ekonomi global yang inklusif.

Leave a Reply

Your email address will not be published.