51
RI Menolak Gagasan Menjadikan Bahasa Melayu Sebagai Bahasa Resmi ASEAN

RI Menolak Gagasan Menjadikan Bahasa Melayu Sebagai Bahasa Resmi ASEAN

Pemerintah menolak usulan Malaysia untuk mempromosikan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi ASEAN, dan menyarankan bahwa bahasa Indonesia (Bahasa Indonesia) adalah pilihan yang lebih tepat.

Proposal untuk memperluas bahasa resmi Asia Tenggara di luar bahasa Inggris telah sering muncul di masa lalu ketika negara-negara anggota ASEAN bekerja menuju “identitas bersama” untuk memperkuat keseluruhan proyek pembangunan komunitas mereka. Tetapi untuk menemukan bahasa umum yang tepat, kita perlu menjelaskan sejarah yang kaya dari wilayah tersebut sebagai wadah peleburan budaya.

Baru-baru ini, dalam kunjungan resmi ke Jakarta pekan lalu, Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob mengusulkan untuk mempromosikan bahasa Melayu sebagai bahasa ASEAN yang potensial.

 

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbduristek) Nadiem Makarim menolak usulan Perdana Menteri Malaysia Dato’ Sri Ismail Sabri Yaakob soal bahasa Melayu jadi bahasa resmi ASEAN.
Seperti diketahui, Perdana Menteri Malaysia Dato’ Sri Ismail Sabri Yaakob pada lawatannya ke Indonesia memberi pernyataan tentang memperkuat bahasa Melayu sebagai bahasa perantara antarakedua kepala negara dan sebagai bahasa resmi ASEAN.

Nadiem menuturkan Kemendikbduristek sebagai lembaga pemerintah diberi amanat untuk mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra Indonesia, serta meningkatkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional.

“Saya sebagai Mendikbudristek, tentu menolak usulan tersebut,” ujar Nadiem dalam keterangan tertulisnya, Senin (4/4/2022).

Ia melanjutkan,”Namun, karena ada keinginan negara sahabat kita mengajukan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi ASEAN, tentu keinginan tersebut perlu dikaji dan dibahas lebih lanjut di tataran regional.”

Nadiem pun mengimbau seluruh masyarakat bahu-membahu dengan pemerintah untuk terus berdayakan dan membela bahasa Indonesia.

Posisi yang diambil Kemendikbudristek tersebut menurut Nadiem ditopang sejumlah argumentasi. Bahasa Indonesia menurutnya lebih layak untuk dikedepankan dengan mempertimbangkan keunggulan historis, hukum, dan linguistik.

SEE ALSO  Berada Di Grup A Dengan Persis Solo, Ini Tanggapan PSIS Semarang

Selain itu, di tingkat internasional, bahasa Indonesia telah menjadi bahasa terbesar di Asia Tenggara dan persebarannya telah mencakup 47 negara di seluruh dunia.

Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) juga telah diselenggarakan oleh 428 lembaga, baik yang difasilitasi oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek, maupun yang diselenggarakan secara mandiri oleh pegiat BIPA, pemerintah, dan lembaga di seluruh dunia.