28
Siti Latifah Herawati Diah Adalah Seorang Jurnalis

Siti Latifah Herawati Diah Adalah Seorang Jurnalis

Google Doodle hari ini menghormati jurnalis wanita terkemuka Indonesia, Siti Latifah Herawati Diah.

Minggu, dikutip dari pernyataan Google, hari ini menandai 105 tahun kelahiran Siti Latifah. Ia lahir pada tanggal 3 April 1917 di Tanjung Pandan Beritung dan meninggal pada tanggal 30 September 2016 di Jakarta.

Pada tahun 1955, Siti Latifah Herawati Diah mendirikan The Indonesian Observer, surat kabar berbahasa Inggris pertama di Indonesia. Sebagai satu-satunya terbitan berbahasa Inggris di Indonesia selama lebih dari satu dekade, majalah ini menangkap aspirasi dan kesulitan sebuah negara baru dan mandiri untuk khalayak di seluruh dunia.

Wanita yang akrab disapa Herawati itu mengenyam pendidikan dan belajar jurnalisme di Barnard College di New York. Ia adalah wanita pribumi pertama lulusan universitas Amerika Serikat pada 1939.

Sebelum pergi ke AS, Herawati terlebih dahulu menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) di Salemba, Jakarta dan American High School di Tokyo, Jepang.

Setelah lulus dari AS, ia kembali ke Indonesia pada tahun 1942, tak lama sebelum Revolusi Nasional Indonesia berlangsung, dan menjadi reporter untuk newswire United Press International (UPI).

Dia menikah dengan sesama jurnalis Burhanuddin Mohammad “BM” Diah, yang kemudian menjadi Menteri Penerangan pada tahun 1968.

Herawati menggunakan koneksi diplomatiknya untuk melindungi monumen budaya Indonesia. Dia memimpin upaya untuk mendeklarasikan Kompleks Candi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Herawati juga seorang advokat yang kuat untuk hak-hak perempuan. Dia mendirikan beberapa organisasi perempuan, termasuk Gerakan Pemberdayaan Suara Perempuan, yang memobilisasi perempuan Indonesia untuk memilih.

“Karya Doodle hari ini merayakan warisan Herawati dan jalan yang dia buka untuk perempuan di Indonesia,” kata Google.

SEE ALSO  Perjalanan Karir Dan Profil Almarhum Achmad Yurianto Eks Jubir Satgas Covid

 

Setelah lulus dari AS, ia kembali ke Indonesia pada tahun 1942, tak lama sebelum Revolusi Nasional Indonesia berlangsung, dan menjadi reporter untuk newswire United Press International (UPI).

Herawati menggunakan koneksi diplomatiknya untuk melindungi monumen budaya Indonesia. Dia memimpin upaya untuk mendeklarasikan Kompleks Candi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Herawati juga seorang advokat yang kuat untuk hak-hak perempuan. Dia mendirikan beberapa organisasi perempuan, termasuk Gerakan Pemberdayaan Suara Perempuan, yang memobilisasi perempuan Indonesia untuk memilih.