26
Sosok Siti Latifa Di Tampilan Google Doodle

Sosok Siti Latifa Di Tampilan Google Doodle

Google Doodle hari ini, Minggu (4 Maret 2042), menampilkan tiga wanita berpenampilan berbeda: mengenakan toga, mengenakan kebaya dengan koran, dan menulis.

Sosok perempuan tersebut adalah Siti Latifah Herawati Diah, seorang jurnalis perempuan ternama asal Indonesia.

Untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-105, Google Doodle memotretnya dengan gambar yang sesuai dengan tindakannya.

Profil Siti Latifah Herawati Diah
Siti Latifah Herawati Diah lahir di Tanjung Pandan, Kepulauan Bangka Belitung pada 3 April 1917.

Ia lahir dari pasangan Raden Latip, seorang dokter yang bekerja di pertambangan timah Billiton Maatschappij dan Siti Alimah.

Semasa hidupnya, ia berkesempatan mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) Salemba, Jakarta dan American High School di Tokyo, Jepang.

Lepas dari American High School Tokyo, Herawati ingin melanjutkan pendidikan di Belanda. Sayang, ayahnya melarang lantaran Belanda adalah negeri penjajah.

Atas dorongan ibunya, ia pun merantau ke Amerika untuk mempelajari sosiologi di Universitas Columbia, New York.

“Saya berangkat ke Amerika sendiri, menumpang kapal laut selama 20 hari,” ujarnya saat diwawancarai Kompas.com, tepat sepuluh tahun lalu.

Erat dengan media
Ketertarikan dengan dunia tulis-menulis, membuat Herawati mengambil kuliah musim panas jurnalistik di Universitas Stanford, California.

Pulang dari Amerika pada 1942, dirinya merintis karier sebagai jurnalis dengan menjadi wartawan lepas kantor berita United Press International (UPI).

Tak lama, ia bergabung sebagai penyiar radio di Radio Hoso Kyoku.

Herawati kemudian menikah dengan Menteri Penerangan era Soeharto, Burhanuddin Mohammad Diah yang kala itu bekerja di Koran Asia Raya.

Bersama suami, ia membangun dan mengembangkan Harian Merdeka pada 1 Oktober 1945 guna mengisi ruang intelektual setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Bukan hanya Harian Merdeka, Herawati juga mendirikan dan memimpin koran berbahasa Inggris pertama di Indonesia, The Indonesian Observer.

SEE ALSO  Laga AtalantaVs RB Leipzig 0-2

Koran tersebut pertama kali diterbitkan dan dibagikan dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, Jawa Barat pada 1955.

Eksistensi The Indonesian Observer bertahan hingga 2001, sementara Harian Merdeka berganti tangan pada akhir 1999.

Kiprah selain jurnalis
Herawati menuturkan, profesi wartawan mengantarnya pada kesempatan menghadiri All-India Women’s Congress pada 1948 sebagai delegasi dan bertemu pimpinan besar India, Mahatma Gandhi.

Namun, kiprahnya sebagai sosok pejuang wanita bukan hanya di dunia jurnalistik saja.

Herawati memimpin upaya mendeklarasikan Kompleks Candi Borobudur sebagai situs warisan dunia UNESCO.

Ia juga menjadi seorang advokat yang senantiasa menyuarakan hak-hak wanita dan tercatat sebagai salah satu komisioner pertama Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

Menjelang pemilihan umum (pemilu) 1999, Herawati bersama Debra Yatim mendirikan Gerakan Perempuan Sadar Pemilu (GPSP) yang kini berubah nama menjadi Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan.

Semangat Herawati di usia senja pun tak meredup dengan ikut mendirikan Hasta Dasa Guna, sebuah perkumpulan wanita berusia di atas 80 tahun.

Herawati meninggal dunia pada usia 99 tahun, atau tepatnya pada 30 September 2016 di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

Ia kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, berdampingan dengan makam suami, BM Diah.